I. PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Sektor pertanian merupakan sektor yang strategis dan berperan penting
dalam perekonomian nasional dan kelangsungan hidup masyarakat, terutama dalam
sumbangannya terhadap PDB, penyedia lapangan kerja dan penyediaan pangan dalam
negeri. Kesadaran terhadap peran tersebut menyebabkan sebagian besar masyarakat
masih tetap memelihara kegiatan pertanian mereka meskipun negara telah menjadi negara
industri. Sehubungan dengan itu, pengendalian lahan pertanian merupakan salah
satu kebijakan nasional yang strategis untuk tetap memelihara industri
pertanian primer dalam kapasitas penyediaan pangan, dalam kaitannya untuk
mencegah kerugian sosial ekonomi dalam jangka panjang mengingat sifat multi
fungsi lahan pertanian.
Pertanian Indonesia pada umumnya adalah pertanian tropika karena
sebagian besar daerahnya adalah berada di daerah tropis yang langsung dipengaruhi
oleh garis khatulistiwa yang memotong Indonesia hampir menjadi dua. Disamping itu,
dua faktor alam lain yang ikut memberi corak pertanian indonesia yaitu
bentuknya sebagai kepulauan dan topografinya bergunung-gunung. Pertanian di Indonesia
berdasarkan jenisnya dibagi menjadi dua jenis pertanian, yaitu pertanian rakyat
dan pertanian perkebunan besar. Pertanian rakyat diselenggarakan oleh penduduk
pedesaan atau penduduk di daerah marginal kota. Pertanian ini dalam
penyelenggaraannya mempunyai sifat yakni modal yang terbatas, penyerapan tenaga
kerja musiman dan bersifat kekeluargaan, pengelolaan lahan dan pertanian secara
wiraswasta, jenis tanaman bersifat tanaman bahan makanan untuk memenuhi
kebutuhan sendiri, serta komoditi pertanian rakyat seperti karet, cengkeh,
kelapa dan lada. Pertanian pada daerah tropis umumnya melakukan usaha taninya
pada lahan tadah hujan dan lingkungan yang beragam dan rentan resiko. Dalam
perjuangan terus-menerus untuk bertahan hidup masyarakat tani mendapatkan
pangan dan sarat dari tanaman dan hewan.
Daerah Sulawesi Selatan misalnya yang memiliki kondisi geografis
dimana terletak gunung, berbukut-bukit dan memiliki palung atau lembah
khususnya. Perkembangan pertanian di Sulawesi Selatan masih dalam tahap
pembangunan teknologi pertanian yang tidak semodern teknologi pertanian di negara-negara
maju, hal ini disebabkan pengadaan modal yang masih kurang, disamping itu,
umumnya tingkat perekonomian di indonesia masih rendah. Sulawesi Selatan sebagai salah satu daerah sektor pertanian
yang cukup luas dan selama ini sangat banyak potensi sumber daya alamnya
tentunya dikenal sebagai daerah yang sangat mengandalkan sektor pertaniannya
dalam pembangunan dan dari sektor ini pulalah sulawesi Selatan dikenal
sebagai daerah pertanian selain Kalimantan dan Jawa. Hal inilah yang kemudian menjadikan pertimbangan pemerintah untuk
selalu menjaga ketahanan pangan di Sulawesi-Selatan. Keterpenuhan
pangan di Sulawesi Selatan relatif terpenuhi mengingat produksi pangan terutama
beras mencapai surplus, pada tahun 2009 surplus beras mencapai sekitar 800.000
ton, namun demikian kondisi ketahanan pangan kita akan
mendapat ancaman apabila pemerintah lebih mengutamakan pembangunan
infrastruktur ketimbang pengembangan pertanian, karena kecenderungan Kebijakan Politik lokal dengan melihat kecenderungan
kebijakan politik pembangunan secara umum di Sulawesi Selatan, maka terdapat
indikasi kuat tentang minimnya perhatian pada sektor pertanian dan pangan.
Daerah aliran sungai merupakan ekosistem
yang terdiri dari berbagai komponen dan terdapat dalam satu kesatuan wilayah.
Dimana komponen-komponen DAS terdiri atas badan air, kawasan\lindung, kawasan pemukiman.
Sebagai satu kesatuan maka pengelolaan DAS harus berorientasi pada pendekatan
ekosistem, dimana mengharuskan pengelolaannya ditangani secara utuh (holistic),
untuk memperoleh keseimbangan dan keberlanjutan guna menjamin manfaat yang
optimal dan berkelanjutan (jangka panjang). Yang menjadi permasalahan ialah dalam aplikasinya pendekatan ekosistem
tidaklah semudah mengatakannya. Oleh karena itu konsep ini
tidak pernah diaplikasikan secara utuh sehingga menimbulkan kesenjangan antara
konsep dan pengaktualisasiannya yang harus segera dicari solusinya. Dari
kesemuanya itu maka menimbulkan permasalahan dimana timbulnya kebijakan yang
rancu diakibatkan labilnya institusi dan sistem perencanaannya yang nantinya
berdampak pada pengelolaan DAS yang terfragmentasi. Bahkan pada permasalahan
tertentu bertentangan (paradoksal) dan masyarakat yang menuai hasilnya. DAS
adalah suatu kawasan mulai dari daerah hulu dipegunungan (up stream) hingga daerah hilir dataran rendah / perkotaan (down stream) oleh karena itu terdapat
beraneka sudut pandang dalam menyikapinya. Disisi lain sangat diperlukan kesamaan dan
kesepakatan persepsi dari multi stakeholder untuk melihat DAS sebagai suatu
kesatuan ekosistem yang utuh sehingga melahirkan suatu keterpaduan.
Diperlukan keterpaduan disebabkan
pengelolaan DAS mencakup sumberdaya hutan, lahan, air, manusia. Oleh karena itu
diperlukan penetapan baik dari segi sasaran, rencana, kelembagaan, monitoring
dan evaluasi sebagai jaminan pelaksanaan kegiatannya terpadu. Pengelolaan yang terfragmentasi
dan berbagai hal yang mengakibatkan paradoksal pengelolaan DAS, hasilnya kini
sudah kita rasakan bersama. Banjir makin sering terjadi dimusim hujan dan
kekeringan merajalela di musim kemarau. Dari perspektif inilah kiranya kita
bisa memahami kenapa masyarakat selalu meminta kompensasi yang harus
dicantumkan jelas dalam kebijakan maupun pengelolaan lingkungan hidup.
1.2
Sasaran belajar
Dalam
pelaksanaan Field Trip ini sasaran belajar yang diharapkan dapat tercapai
adalah sebagai berikut :
·
Aspek
pengetahuan
Dalam
aspek ini mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan dan menambah kemampuan manajerialnya
termasuk kemampuan menganalisa dan
memecahkan masalah yang dihadapi di lapangan.
·
Aspek
keterampilan
Aspek ini
meliputi pekerjaan-pekerjaan yang sifatntya berkaitan dengan kemampuan fisik
termasuk didalamnya kecepatan dan keterampilan dalam melaksanakan suatu kewajiban.
·
Aspek sikap
Kita harus
memberikan penyuluhan kepada daerah-daerah yang penduduknya bermata pencaharian
sebagai petani yang dimana pengetahuannya masih minim tentang hama dan
bagaimana pengelolaan sawah yang baik dan ramah lingkungan.
1.3
Tujuan dan Kegunaan
1.3.1
Tujuan
Adapun
tujuan dari field trip ini adalah sebagai berikut :
1.
Field trip
merupakan yang tak terpisahkan dari kurikulum Program Studi Agribisnis Jurusan
Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin.
2.
Memperluas
wawasan berfikir dan menambah pengalaman, pengetahuan serta keterampilan
mahasiswa.
3.
Mahasiswa
diharapkan dapat lebih arif dan bijaksana terhadap segala macam fenomena
Agrokompleks (pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, serta peternakan) yang
ada dalam masyarakat.
4.
Menemu–kenali
lebih dekat karakteristik fisik, sosial, ekonomi, dan sosial budaya di lokasi
Field Trip.
5.
Agar mahasiswa
berkesempatan untuk melatih, memhami, menguji, mencocokan, dan memperluas
teori–teori yang diperoleh di bangku kuliah dan mampu merekontruksi suatu pentas
sosial dalam suatu bentuk laporan tertulis.
1.3.2
Kegunaan
Adapun kegunaan field trip adalah sebagai bahan informasi bagi masyarakat
tani, nelayan, peternak dan pengusaha (agribisnis), serta pemerintah setempat
terutama yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah
tentang pembangaunan pertanian secara khusus dan pembangunan agrokompleks
secara umum.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ekosistem
pesisir
Ekosistem pesisir merupakan daerah peralihan antara
ekosistem darat dengan ekosistem laut, dimana organisme penghuninya berbaur
antara organisme dari darat dan dari laut. Organisme tersebut berkumpul dalam
suatu tempat untuk saling berinteraksi, seperti pada daerah estuari, pantai
berbatu, pantai berpasir, hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang
(Irwanto, 2011).
Indonesia
memiliki lebih dari 17.000 pulau yang tersebar dari barat hingga timur dengan
garis pantai sepanjang ± 80.791 km. Setiap pulau memiliki perbedaan yang
dipengaruhi oleh kondisi geologi, geomorfologi, hidrologi dan posisinya yang
terletak pada daerah tropis. Dengan kondisi tersebut, maka di sepanjang jalur
garis pantainya (pesisir) terbentuk berbagai jenis bentuk lahan asal marin dan
berbagai tipe ekosistem pesisir. Ekosistem pantai identik dengan daerah
kepesisiran (coastal area) atau disebut saja daerah pesisir, namun hal
ini perlu dibedakan dengan pesisir (coast), pantai (shore),
maupun gisik (beach). Daerah pesisir yaitu daerah yang membentang dari
zona gelombang pecah (breaker zone) di laut hingga batas akhir daratan
alluvial pesisir (coastal alluvial plain) di darat. Jika daerah pesisir
membentang dari laut hingga darat maka yang disebut pesisir berupa bentangan di
darat saja, yaitu dari garis pesisir
(coastline) hingga batas akhir daratan alluvial pesisir. Faktor antropodinamik
diketahui sebagai faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap daerah pesisir
pantai. Akibat kelanjutannya adalah terjadinya erosi pantai maupun sedimentasi
ditempat lain (Anonim1, 2011).
Ekosistem
pesisir bersifat sangat dinamis, karena merupakan tempat pertemuan dan
interaksi dari tiga kekuatan yang berasal dari daratan, perairan laut dan
udara. Potensi sumber daya pesisir dan laut utamanya sumber daya hayati ikan
dan sejenisnya telah dieksploitasi secara berlebihan baik melalui perikanan
tangkap (laut) maupun budi daya ikan (tambak), sehingga terjadi penipisan
sumber daya baik pesisir maupun laut. Masyarakat pesisir dan laut yang
jumlahnya cukup besar dengan ketergantungan tinggi terhadap pemanfaatan sumber
daya hayati laut diperhadapkan pada masalah makin terbatasnya dan berkurangnya
potensi tangkap yang sangat mempengaruhi kondisi sosial–ekonomi mereka. Potensi
lahan tambak telah dimanfaatkan hampir sebanding dengan potensi tersedia,
sehingga tidak layak lagi dilakukan perluasan areal tambak karena akan
berdampak ekologis dan akan terjadi benturan fungsi-fungsi lahan. Potensi
sumber daya pesisir dan laut yang prospektif untuk diolah dan dikembangkan
adalah sumber daya potensi pariwisata, namun diperhadapkan pada kompleksitas
masalah dalam pengelolaan/ eksploitasinya (Sunarto, 2004).
Pertumbuhan
penduduk yang sangat cepat khususnya mengakibatkan penguasaan lahan secara liar
oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Dengan terbatasnya lahan untuk tempat
tinggal di kota menjadikan lahan milik negara yang tidak dimanfaatkan digunakan
masyarakat untuk kawasan permukiman. Pemukiman lette terletak di tepi pantai
dengan perkembangan kotanya secara linier di sepanjang pantai tersebut. Hal ini
menyebabkan masyarakat memilih tempat tinggal di kawasan tersebut karena
merupakan lokasi yang strategis dan dekat dengan mata pencaharian utamanya
sebagai nelayan. Kawasan permukiman ini akhirnya berkembang di kawasan
konservasi ke arah pantai dan menjadi kawasan kumuh. Munculnya kawasan
permukiman kumuh legal (slums) dan ilegal (squatters) disebabkan tidak adanya
peraturan daerah sebagai pengendali dalam penyediaan hunian dan pelayanannya. Kawasan
kumuh adalah kawasan di mana rumah dan kondisi hunian masyarakat di kawasan
tersebut sangat buruk. Rumah maupun sarana dan prasarana yang ada tidak sesuai
dengan standar yang berlaku, baik standar kebutuhan, kepadatan bangunan, persyaratan
rumah sehat, kebutuhan sarana air bersih, sanitasi maupun persyaratan
kelengkapan prasarana jalan, ruang terbuka, serta kelengkapan fasilitas sosial
lainnya (Kurniasih, 2007).
2.2 Ekosistem Mangrove, Padang Lamun ,Terumbu Karang
Hutan mangrove
merupakan ekosistem yang unik dan berfungsi ganda dalam lingkungan hidup. Hal
ini disebabkan oleh adanya pengaruh lautan dan daratan, sehingga terjadi
interaksi kompleks antara sifat fisika, sifat kimia dan sifat biologi. Hutan
mangrove tergolong salah satu sumber daya alam yang dapat diperbarui dan
terdapat hampir diseluruh perairan Indonesia yang berpantai landai. Sebagai
sala satu ekosistem yang unik, hutan mangrove merupakan sumber daya alam yang
potensial, karena mempunyai tiga fungsi pokok, yaitu fungsi ekologis, fungsi
ekonomi, dan fungsi lain (parawisata, penelitian, dan pendidikan). Meskipun
demikian, hutan mangrove merupakan ekosistem yang sangat mudah rusak jika
terjadi perubahan pada salah satu unsur pembentuknya, sehingga dikenal sebagai fragile ecosystem (Arifin Arief, 2007).
Hutan mangrove
adalah ekosistem utama pendukung kehidupan yang penting di wilayah pesisir.
Selain mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan,
tempat pemijahan dan asuhan bagi bermacam biota, penahan abrasi, penahan amukan
angin topan dan tsunami, penyerap limbah, pencegah intrusi air laut dan lain
sebagainya, hutan mangrove juga mempunyai fungsi ekonomis seperti penyedia
kayu, daun-daunan sebagai bahan baku obat-obatan dan lain-lain. Segenap kegunaan
ini telah dimanfaatkan secara tradisional oleh sebagian besar masyarakat
pesisir di tanah air. Potensi lain dari hutan mangrove yang belum dikembangkan
secara optimal adalah kawasan wisata alam (ecotourism).
Padahal negara lain, seperti Malaysia dan Australia, kegiatan wisata lain di
kawasan hutan mangrove sudah berkembang lama dan menguntungkan (Dahuri et al
2004).
Padang lamun (sea grass) adalah tumbuhan berbunga yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri
untuk hidup terbenam dalam laut. Tumbuhan ini terdiri dari rhizoma, daun dan
akar. Rhizoma merupakan batang yang terbenam dan merayap secara mendatar, serta
berbuku-buku. Pada buku-buku tersebut tumbuh batang pendek yang tegak ke atas,
berdaun dan berbunga, dengan rhizoma dan akarnya inilah tumbuhan
tersebut dapat menancapkan diri dengan kuat di dasar laut hingga tahan terhadap
hempasan gelombang dan arus. Sebagian besar, lamun berumah dua, artinya dalam
satu tumbuhan hanya ada bunga jantan saja atau bunga betina saja. Sistem
pembiakannya bersifat khas karena mampu melakukan penyerbukan di dalam air.
Buahnya pun terendam dalam air (Nontji, 2005).
Adapun yang termasuk padang lamun yaitu sea grass (tumbuhan
berbunga). Fungsi dari padang lamun yaitu:
a.
Makanan untuk ikan besar dalam bentuk detritus.
b.
Tempat berlindungnya biota-biota laut.
c.
Dapat meredam arus sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang.
Meskipun padang lamun merupakan ekosistem
yang penting, namun pemanfaatannya secara langsung untuk kebutuhan hidup
manusia tidak banyak dilakukan. Beberapa jenis lamun dapat digunakan sebagai
bahan makanan, misalnya samo-samo (Enhalus acoroides) dimanfaatkan
bijinya oleh penduduk pulau-pulau seribu (Wilyadara, 2004).
Lamun merupakan
tumbuhan berbunga (angiospermae) yang telah sepenuhya menyesuaikan diri untuk
hidup terbenam dalam laut dan lamun sering kali merupakan komponen utama yang
dominan di lingkungan pesisir. Lamun seringkali dijumpai berasosiasi dengan
hutan mangrove dan terumbu karang. Sebaran lamun bergantung luas daerah pasang
surut. Sebagian besar lamun memiliki morfologi luas yang secara kasar hampir
serupa. Ciri-cirinya antara lain : memiliki daun yang panjang, tipis, dan mirip
pita yang mempunyai saluran air serta bentuk yang monopodial (Nybakken, 2005).
Jika padang lamun berlebihan dapat merusak
terumbu karang. Penyebaran jenis padang lamun tidak merata, oleh karena di
pengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yang berbeda, termasuk pengaruh
aktivitas manusia yang menimbulkan dampak dampak terhadap perubahan penyebaran
kehidupan jenis-jenis tanaman lamun di daerah perairan terumbu
karang merupakan ekosistem yang khas yang dapat tumbuh di daerah tropis.
Terumbu karang banyak didapat di dasar pantai.
Pada hakikat terumbu karang harus kita jaga. Tapi
kenyataannya, pada saat ini sudah banyak terumbu karang yang rusak akibat ulah
tangan manusia. Indonesia memiliki kurang lebih 50.000 km2 ekosistem
terumbu karang yang tersebar di seluruh wilayah pesisir dan lautan
(Dahuri et al, 2004).
Meningkatnya kerusakan terumbu karang, dewasa ini telah mengkhawatirkan
karena banyak mempengaruhi status keanekaragaman laut selama ini. Kerusakan
terumbu karang terutama diakibatkan oleh aktivitas manusia yang menggunakan
bahan peledak, penggunaan sianida untuk menangkap ikan serta sedimentasi.
Pemanfaatan potensi terumbu karang tidak jarang hanya berpegang pada salah satu
fungsi perekonomian, tanpa memperhatikan fungsi yang lain, yaitu penyokong
kehidupan (Dahuri et al 2004).
Komponen biota terpenting di suatu terumbu
karang ialah hewan karang batu (Stony coral). Hewan yang tergolong
Scleractimia yang kerangkanya terbuat dari bahan kapur. Tetapi di samping itu,
sangat banyak jenis biota lainnya yang hidupnya mempunyai kaitan erat dengan
karang batu ini. Semuanya terjalin dalam hubungan fungsional
yang harmonis dalam suatu ekosistem yang dikenal dengan ekosistem terumbu
karang (Nontji, 2005).
Dari segi estetika, terumbu karang yang masih
utuh menampilkan pemandangan yang sangat indah, jarang dapat ditandingi oleh
ekosistem lain. Taman-taman laut yang terkenal terdapat di pulau atau pantai
yang mempunyai terumbu karang. Selain itu, terumbu karang merupakan pelindung
fisik terhadap pantai. Bagaikan benteng yang kokoh. Apabila
terumbu karang rusak, dihancurkan atau diambil karang beserta pasir secara
berlebihan, maka benteng pertahanan pantai pun akan jebol. Akibatnya, pantai
akan terus terkikis oleh pukulan ombak (Slamet P, 2006). Adapun fungsi dari terumbu karang yaitu:
1.
Sebagai tempat tinggal ikan dan biota-biota laut lainnya.
2.
Sebagai tempat perlindungan biota-biota laut.
3.
Melindungi ekosistem pesisir dari
gelombang besar (badai).
2.3 Ekosistem
persawahan
Persawahan
merupakan salah satu bagian dari
berbagai kegiatan di bidang pertanian, dimana lahan persawahan ini biasanya
didominasi oleh komoditi yang berupa tanaman padi. Namun demikian, lahan
persawahan kadang diusahakan bersama komoditi lain seperti azolla dan ikan air
tawar lantaran kondisi ekosistemnya yang memungkinkan. Meskipun tanaman padi
dapat ditanam di lahan kering (padi gogo), dalam program peningkatan produksi
padi pada seperti saat ini, pemerintah masih mengandalkan sawah sebagai tulang
punggung pengadaan beras dri pada lahan kering. Hal ini mengingat lahan sawah
mempunyai produktivitas lebih tinggi dibanding lahan kering, selain
ketersediaan teknologi yang lebih banyak. Tanaman padi pada dasarnya merupakan
biota pokok sawah yang dapat hidup pada ekosistem darat dan ekosistem air. Pada
sistem sawah, tanaman padi sepanjang hidupnya selalu dalam
kondisi tergenang, dimana hal ini merupakan ciri khas dari budidaya padi sawah.
Oleh karena itu, budidaya sawah ini dilakukan pada tanah yang berstruktur
lumpur (Anonim 2, 2011).
Padi sebagai
komoditi utama pada lahan persawahan memiliki beberapa komponen dilihat dari
segi struktur morfologi tanamannya, yakni berupa komponen vegetatif dan
komponen generatif, yakni dimana komponen tersebut mempengaruhi cara pertumbuhan
dan perkembangbiakannya. Komponen vegetatif tadi terdiri dari bagian akar,
batang dan daun. Adapun komponen generatifnya terdiri dari bagian malai, bunga
dan buah. Dari segi pembudidayaannya, tanaman padi di lahan persawahan melalui
berbagai tahap, termasuk tahap persiapan lahan, pemilihan benih, penyemaian,
penanaman, pemupukan dan pemeliharaannya termasuk pengelolaan hama dan penyakit
hingga tiba masa panen (Penuntun Field Trip, 2011).
a.
Penyiapan Lahan
Tahap awal
ini meliputi pengolahan tanah yang terdiri dari pembajakan, garu dan perataan.
Adapun lahan yang ideal untuk sawah harus memiliki kandungan liat minimal 20%.
b.
Pemilihan Benih
Sebaiknya benih yang dipilih oleh para petani sawah adalah berupa
benih padi yang bersertifikat/berlabel biru. Di tiap musim tanam perlu adanya
pergiliran varietas benih yang digunakan dengan memperhatikan terhadap serangan
hama.
c.
Penyemaian
Penyemaian
dibuat secara bersamaan dengan lahan penanaman. Lahan persemaian biasanya
diolah terlebih dahulu, biasanya dengan pembajakan atau pencangkulan selama
tiga kali. Penyemaian ini biasa dibuat di lahan yang sama atau berdekatan
dengan petakan sawah yang akan ditanami.
d.
Penanaman
Sistem penanaman
padi sawah terdiri dari sistem tapin dan tabela. Pada sistem tapin (transplanting),
bibit ditanam pada lahan selanjutnya bibit dipindahkan saat berumur 18-25 hari
umumnya 21 hari. Sedangkan pada sistem tabela, benih ditebar langsung dan tidak
dilakukan persemaian.
e.
Pemupukan
Pupuk
untuk tanaman padi sebaiknya merupakan campuran antara pupuk organik dan pupuk
buatan. Dosis pupuk disesuaikan dengan keadaan potensi dan daya dukung
setempat.
f.
Pemeliharaan
Beberapa
tindakan pemeliharaan/ perawatan tanaman padi sawah meliputi penyulaman,
pengaturan genangan dan pemberantasan hama dan penyakit. Pengaturan genangan
dimulai dengan pemberian air pada waktu yang tepat, jumlahnya yang cukup dan
kualitas air yang baik dengan memperhatikan metode tertentu.
2.4 Petani dan Usaha Tani
Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai
contoh "petani tembakau" atau "petani ikan". Usaha tani (farming) adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut
sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Pelaku budidaya hewan ternak
(livestock) secara khusus
disebut sebagai peternak. Usaha pertanian diberi nama khusus untuk subjek usaha tani
tertentu. Kehutanan adalah usaha tani dengan subjek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan yang setengah liar atau liar (hutan). Peternakan menggunakan subjek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia) atau serangga (misalnya lebah). Perikanan memiliki subjek hewan perairan (termasuk amfibia dan semua
non-vertebrata air) (Anonim3, 2011).
Suatu usaha pertanian dapat melibatkan
berbagai subjek ini bersama-sama dengan alasan efisiensi dan peningkatan
keuntungan. Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumber daya
alam juga menjadi bagian dalam usaha
pertanian. Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang sama akan
pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan
dan pengemasan produk dan pemasaran. Apabila seorang petani memandang semua aspek ini dengan
pertimbangan efisiensi untuk mencapai keuntungan maksimal maka ia melakukan pertanian intensif (intensive
farming).
Usaha pertanian yang dipandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis. Program dan kebijakan yang mengarahkan usaha pertanian ke cara
pandang demikian dikenal sebagai intensifikasi. Karena pertanian industrial selalu menerapkan pertanian intensif, keduanya sering kali
disamakan. Petani jika berusaha tani secara individu akan terus berada di pihak
yang lemah karena petani secara individu akan mengelola usaha tani dengan luas
garapan kecil dan terpencar serta kepemilikan modal yang rendah. Sehingga,
pemerintah perlu memperhatikan penguatan kelembagaan lewat kelompok tani karena
dengan berkelompok maka petani tersebut akan lebih kuat, baik dari segi
kelembagaannya maupun permodalannya. Kelembagaan petani di desa umumnya tidak
berjalan dengan baik ini disebabkan oleh :
1.
Kelompok tani
pada umumnya dibentuk berdasarkan kepentingan teknis untuk memudahkan
pengkoordinasian apabila ada kegiatan atau program pemerintah, sehingga lebih
bersifat orientasi program dan kurang menjamin kemandirian kelompok dan
keberlanjutan kelompok.
2.
Partisipasi dan
kekompakan anggota kelompok dalam kegiatan kelompok masih relatif rendah, ini
tercermin dari tingkat kehadiran anggota dalam pertemuan kelompok rendah (hanya
mencapai 50%).
3.
Pengelolaan
kegiatan produktif anggota kelompok bersifat individu. Kelompok sebagai forum
kegiatan bersama belum mampu menjadi wadah pemersatu kegiatan anggota dan
pengikat kebutuhan anggota secara bersama, sehingga kegiatan produktif individu
lebih menonjol.
2.5 Alih Fungsi Lahan
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang selama ini masih
diandalkan oleh Negara Indonesia karena sektor pertanian mampu memberikan
pemulihan dalam mengatasi krisis yang terjadi di Indonesia. Keadaan inilah yang
menampakkan bahwa sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang andal dan
mempunyai potensi besar untuk berperan sebagai pemicu pemulihan ekonomi
nasional melalui salah satunya adalah ketahanan pangan nasional. Dengan
demikian diharapkan kebijakan untuk sektor pertanian lebih diutamakan. Namun
setiap tahun untuk luas lahan pertanaian selalu mengalami alih fungsi lahan
dari lahan sawah ke lahan non sawah. Usaha yang
dilakukan pemerintah untuk mempertahankan swasembada pangan adalah peningkatan
mutu program itensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi lahan
pertanian (Syahyuti, 2007).
Hal ini penting dilakukan
guna mengantisipasi kebutuhan pangan khususnya beras yang terus meningkat
seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan penciutan lahan sawah. Hasil analisis menunjukkan perubahan alih fungsi lahan sawah ke
lahan non sawah pada periode tahun 1995-2006 sebesar 225.292 hektar atau
sebesar 1.82 persen. Dengan demikian setiap tahun mengalami mutasi lahan
sebesar 18.774 hektar. Sementara produksi padi tahun 1995-2006 mengalami
penurunan akibat alih fungsi lahan pertanian sebesar 1,304,853 ton atau sebesar
1.09 persen (Anonim4,
2011).
Permasalahan yang ditimbulkan oleh akibat pergeseran atau mutasi
lahan sawah ke non sawah perlu dilihat bukan saja berdasarkan dampaknya kepada
produksi padi saja, tetapi perlu dilihat dalam perspektif yang lebih luas.
Dampak yang lebih luas tersebut termasuk pengaruhnya terhadap kestabilan
politik yang diakibatkan oleh kerawanan pangan, perubahan sosial yang
merugikan, menurunnya kualitas lingkungan hidup terutama yang
menyangkut sumbangan fungsi lahan sawah kepada konservasi tanah dan air untuk
menjamin kehidupan masyarakat dimasa depan. Dampak dari kehilangan lahan
pertanian produktif adalah kehilangan hasil pertanian secara permanen, sehingga
apabila kondisi ini tidak terkendali maka dipastikan kelangsungan dan
peningkatan produksi akan terus berkurang dan pada akhirnya akan mengancam
kepada tidak stabilnya ketahanan pangan. Untuk mengurangi
alih fungsi lahan yang lebih luas pemerintah. Perlu melakukan
strategi dan kebijakan mengenai pengendalian konversi lahan sawah karena
permasalahannya sangat kompleks maka strategi pengendalian alih fungsi lahan
pertanian memerlukan pendekatan holistik (memuat instrumen yuridis, instrumen
insentif bagi pemilik lahan pertania dan instrumen rencana tata ruang wilayah
dan perizinan lokasi secara terpadu). Serta dalam rangka menjaga ketahanan
pangan khususnya untuk meningkatkan produksi padi selain melakukan pengendalian
alih fungsi lahan juga perlu dilakukan intensifikasi pertanian melalui
penerapan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi dan berwawasan
lingkungan agar dapat meningkatkan budaya sains dan teknologi pertanian
(Anonim 5, 2011).
2.6. Ekosistem Hutan
Ekosistem hutan adalah hubungan antara kumpulan beberapa
populasi baik itu binatang dan tumbuh-tumbuhan yang hidup dalan lapisan dan
dipermukaan tanah dan terletak pada suatu kawasan serta membentuk suatu
kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan yang dinamis yang mengadakan
interaksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan lingkungannya dan
antara yang satu dan yang lainnya tidak dapat dipisahkan (Supeksa, 2010).
Organisme berkembang dalam komunitas dan terjalin dalam
sebuah sistem dengan lingkungan fisik untuk keperluan kehidupan. Spesies
tumbuhan dan binatang dalam suatu ekosistem sangat ditentukan oleh pengaruh
potensi sumber daya alam dan faktor kimiawi yang sesuai dengan kebutuhan hidup
spesies tersebut. Kawasan hutan banyak ditumbuhi oleh lebatnya pohon dan
tumbuhan. Menjadi bentuk kehidupan yang tersebar di dunia, baik di daerah
tropis, beriklim dingin, di pegunungan, dataran rendah, di pulau terkecil atau
di suatu benua. Memiliki fungsi untuk menampung karbon dioksida, rumah bagi
habitat hewan dan tumbuhan, pelestarian alami tanah, modulator arus hidrolika,
dan fungsi biosfer terpenting bagi keberlangsungan hidup di muka bumi ini
(Anne, 2010).
2.7
Gambaran umum DAS jeneberang
Daerah Aliran Sungai Jeneberang disusun
oleh batuan gunung api yang terdiri dari aglonmerat, breksi, lava, endapan
lahar dan tufa. Batuan gunungapi tersebut termasuk dalam batuan gunung api
Battrape-Cindako dan batuan gunung api Lompobattang. Beberapa diantara batuan
gunung api tersebut tidak mengalami kompaksi yang sempurna, sehingga sangat
mudah mengalami longsoran dan erosi. Bagian tengah daerah aliran Sungai
Jeneberang, selain batuan gunung api, dijumpai juga batuan sedimen laut dari
formasi Camba yang terdiri dari batu pasir, batu lempung, napal, batu gamping,
konglomerat dan breksi gunung api. Bagian hilir Sungai Jeneberang tersusun atas
endapan fluvial yang terdiri dari kerikil, pasir, lempung, lumpur dan batu
gamping koral. Batuan yang menyusun daerah perairan pantai di sekitar muara Sungai
Jeneberang
sebagai endapan aluvial pantai terdiri dari pasir, lempung dan lumpur. Dalam
pengolahannya endapan berupa pasir tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat
sebagai material campuran dalam pembuatan konstruksi bangunan (Panduan Field Trip,
2011).
Debit sungai Jeneberang berkisar antara
238,8–1.152 m3/detik dengan debit rata-rata tahunan sebesar 33,05 m3/detik.
Debit aliran sungai ini mengalami penurunan tiap tahunnya akibat meningkatnya
derajat sebaran lumpur (sedimen) dari daerah hulu. Dengan panjang sungai 75,6
km dan debit 33,05 m3/detik kondisi sungai ini masih relatif aman.
Dalam artian bahwa kondisi sungai ini tetap stabil/aman jika dalam pengelolaan
dan pemeliharaan Dam Bili-Bili dilakukan secara kontinyu. Jika stabilitas Dam
Bili-bili menurun hingga secara teknis tidak mampu berfungsi dengan maksimal,
hal ini akan memberikan pengaruh yang berbahaya terhadap pedataran Kota
Makassar. Karena penurunan stabilitas Dam Bili-Bili ini akan menaikkan besarnya
kecepatan aliran debris. Kecepatan alir yang terlalu besar memungkinkan gaya
gravitasi bumi sangat kuat yang dapat mengikis permukaan tanah yang sampai
akhirnya dapat menyebabkan longsor. Ancaman ini akan semakin besar dikarenakan
tekstur tanah yang tersusun dan tersebar
di kawasan ini merupakan struktur tanah yang tidak terkompaksi secara maksimal (Anonim
6, 2011).
2.8. Gambaran
Umum DAM Bili-bili
Bendungan
Bili-Bili merupakan bendungan terbesar di Sulawesi Selatan yang terletak di
Kabupaten Gowa, sekitar 30 kilometer ke arah Timur Kota Makasar bendungan ini
diresmikan pada tahun 1989. Bendungan dengan waduk 40.428 ha ini dibangun
dengan dana pinjaman luar negeri sebesar
Rp. 780 miliar kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency
(JICA). Bendungan Bili-Bili menjadi sumber air baku bagi Perusahaan Daerah
Aliran Minum (PDAM) Gowa dan Makassar bermanfaat sebagai pengendali banjir
Sungai Jeneberang dari debit 2.200 meter kubik per detik menjadi 1.200 meter
kubik per detik. Bendungan ini juga berfungsi sebagai PLTA dengan kapasitas
16,3 meter. Namun bila hujan, lumpur longsor di kaki Gunung Bawakaraeng
mengalir masuk ke waduk Bili-Bili hingga air baku menjadi keruh. Jika tingkat
tidak mampu lagi dijernihkan Instalasi Penjernihan Air (IPA) PDAM Gowa dan
Makasar (Supardi, 2005).
Bendungan
ini dibangun dengan tujuan sebagai tanggul penahan air, sebagai PLTA
(Pembangkit Listrik Tenaga air), sebagai PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) dan
irigasi atau pengairan sawah Beberapa permasalahan lingkungan yang ditemukan
seperti pencemaran air yang disebabkan oleh sampah-sampah yang berserakan
disekitar bendungan Bili-Bili, hal tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran
manusia yang membuang sampah sembarangan. Permasalahan lain yang di temukan
adalah udara yang semakin panas yang disebabkan oleh adanya penggundulan gunung
di sekitar bendungan Bili-Bili. Pada dasarnya, solusi berbagai permasalahan
harus dari kesadaran masyarakat untuk dapat melestarikan seperti mengadakan
reboisasi atau penghijauan dan membuang sampah pada tempatnya
(Panduan Field Trip, 2011).
·
Bendungan ini mempunyai dua terowongan :
Ø Panjang terowongan 1 =
300 meter
Ø Panjang terowongan 2 =
290 meter
Ø Bentuknya tipe lingkaran
Ø Diameter ± 9,3 meter
·
Bendungan utama terdiri atas :
Ø Tinggi = 73 meter
Ø Panjang = 750 meter
Ø Lebar puncak = 10 meter
Ø Elevesi puncak = 106 meter
Ø Volume timbunan = 2.760.000 m³
·
Bendungan sayap kiri :
Ø Tinggi = 42 meter
Ø Panjang = 646 meter
Ø Lebar puncak = 10 meter
Ø Elevesi puncak = 106 meter
Ø Volume timbunan = 1.470.000 m³
·
Bendungan sayap kanan :
Ø Tinggi = 52 meter
Ø Panjang = 412 meter
Ø Lebar puncak = 10 meter
·
Pemindahan penduduk
Jumlah penduduk yang akan dipindahkan 1.739 KK, yang berasal dari Desa
Romang Loe, Moncong Loe, Lanna dan Manuju.
Macam perpindahan penduduk :
Ø Pindah sendiri = 1.238 KK
Ø Treansmigrasi lokal = 740 KK
·
Pembiayaan : di peroleh dari
OECF
Dari berbagai keterangan
di atas, maka ekosistem hutan memegang perang penting, untuk menjaga
ketersediaan air dan berkelanjutan pembangunan bendungan Bili-Bili ini.
Munculnya dimensi berkelanjutan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan umat
manusia akan masa depannya sebagai akibat dari peledakan penduduk dan
penggunaan teknologi dalam pemanfaatan sumber daya alam. Manakala daya dukung
lingkungan itu terlampaui, maka akan menimbulkan kerusakan pada semua komponen dalam
ekosistem. Jika hal ini terus menerus berlanjut maka kebutuhan-kebutuhan
manusia akan terganggu
(Penuntun Field Trip, 2011).
III. GAMBARAN UMUM LOKASI PRAKTEK LAPANG
3.1 Keadaan Geografis
Letak geografis adalah letak suatu daerah atau wilayah dilihat dari kenyataan di permukaan bumi. Kelurahan Bulutana salah satu kelurahan di
kecamatanm Tinggimongcong kabupaten Gowa, provinsi Sulawesi Selatan. Bulutana
ibukota di lombasang, sebuah kampung yang berjarak 2 km dari Malino ibu kota Kecamatan
Tinggimoncong.
3.1.1 Batas Wilayah
Wilayah merupakan suatu unit geografis yang dibatasi oleh kriteria
tertentu yang bagian-bagiannya saling tergantung secara internal. Tipologi suatu wilayah dapat
digambarkan sebagai Gambaran Tunggal
dan Gambaran Majemuk. Lokasi field trip terbagi atas 4 batas wilayah kelurahan, yaitu
sebagai berikut :
- Sebelah utara :
Kelurahan Malino
- Sebelah Timur :
Kelurahan Pattapang
- Sebelah selatan :
Kelurahan Bontolerung
- Sebelah Barat :
Kelurahan Bulutana
3.1.2 Pemanfaatan Lahan
Luas wilayah kelurahan dalam tata guna lahan, Luas Wilayah
Kelurahan Bulutana 2170 Ha terdiri dari
:
Tabel 1. Pemanfaatan Lahan
di Kelurahan Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong,
Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, 2011.
No
|
Jenis Pemanfaatan Lahan
|
Luas (ha)
|
1
|
Hutan Lindung
|
1367 ha
|
2
|
Hutan Adat
|
4 ha
|
3
|
Sawah
|
389 ha
|
4
|
Ladang
|
274,5 ha
|
5
|
Pemukiman
|
135,5 ha
|
Sumber :
Data Sekunder, 2011
Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa jenis pemanfaatan
lahan yang paling luas adalah hutan lindung dengan luas 1367 ha, kemudian sawah
dengan luas 389, ladang dengan luas 274,5 ha , pemukiman 135,5 ha, dan hutan
ada yang jenis pemanfaatan lahan paling kecil
dengan luas 4 ha.
3.1.3 Jarak wilayah dari pusat Pemerintahan
Jarak dari ibu kota
Kecamatan Tinggimoncong ke kelurahan Bulutana 2 km, jarak dari Ibu Kota
Kabupaten Gowa ke kelurahan Bulutana 62 km, dari Ibu Kota Provinsi Sulawesi
Selatan ke kelurahan Bulutana 71 km.
3.1.4 Keadaan Topografi
Secara umum
keadaan topografi Kelurahan Bulutana adalah daerah dataran tinggi dan daerah
perbukitan, yang didalamnya terdapat 5 (lima) aliran Sungai, 4 (empat) titik
air terjun yang dapat dijadikan objek wisata alam. Kelurahan Bulutana berada
pada ketinggian 1050 meter dari permukaan laut.
3.1.5 Iklim
Iklim Kelurahan
Bulutana sebagaimana Kelurahan /Kelurahan lain di wilayah Kabupaten Gowa yaitu
iklim tropis dengan dua musim, yakni Kemarau dan Hujan.Suhu rata-rata 15
C sampai 22
C.
3.1.6
Wilayah Administrasi Pemerintahan
Wilayah
administratif adalah wilayah yang batas-batasnya di tentukan berdasarkan
kepentingan administrasi pemerintahan atau politik, seperti: propinsi,
kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, dan RT/RW. Dalam praktik, apabila
membahas mengenai pembangunan wilayah, maka pengertian wilayah administrasi
merupakan pengertian yang paling banyak digunakan. Lebih populernya pengunaan
pengertian tersebut disebabkan dua factor yakni: (a) dalam kebijaksanaan dan
rencana pembangunan wilayah diperlukan tindakan-tindakan dari berbagai badan
pemerintahan. Dengan demikian, lebih praktis apabila pembangunan wilayah
didasarkan pada suatu wilayah administrasi yang telah ada; dan (b) wilayah yang
batasnya ditentukan berdasarkan atas suatu administrasi pemerintah lebih mudah
dianalisis, karena sejak lama pengumpulan data diberbagai bagian wilayah
berdasarkan pada suatu wilayah administrasi tersebut (Sukirno, 2004).
Kelurahan Bulutana terdiri atas 4 (empat) Lingkungan yakni: Lingkungan Lombasang, Buttatoa, Palangga,
dan Parangbugisi yang terdiri dari 10 RK dan 23 RT sebagai berikut :
Tabel 2.
Lingkungan yang ada di Kelurahan Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong, kabupaten Gowa, Provinsi
Sulawesi-Selatan, 2011
Nama Lingkungan
|
Jumlah RK
|
Jumlah RT
|
Lombasang
|
2
|
6
|
Buttatoa
|
3
|
7
|
Palangga
|
2
|
4
|
Parangbugisi
|
3
|
6
|
Sumber : Data Sekunder, 2011
Berdasarkan tabel
2 menunjukkan bahwa terdapat 4 wilayah pada Lingkungan tersebut terdiri dari Wilayah
Lingkungan Lombasang terdiri dari 2 (dua) Rukun Warga dan 6 (enam) Rukun
Tetangga (RT) yaitu RK 01 Lombasang 4 (empat)
RT, RK 02 Mattoangin 2 (dua) RT. Pada Wilayah Lingkungan Buttatoa terdiri dari
3 (tiga) Rukun Warga dan 7 (tujuh) Rukun Tetangga diantaranya, RK
01 Bontoa 3 (tiga) RT, RK 02 Bulutanatoa
2 (dua) RT dan RK 03 Tanetea 2 (dua) RT.
Wilayah Lingkungan Palangga terdiri dari 2 (dua) Rukun Warga dan 4 (empat) Rukun Tetangga
diantaranya RK 01 Palangga 2 (dua) RT, RK 02
Panambungang 2 (dua) RT. Kemudian Wilayah Lingkungan Parangbugisi terdiri dari
3 (tiga) Rukun Warga dan 6 (enam) Rukun
Tetangga diantaranya,RK 01 Pa`bentengang 3 (dua) RT,RK 02 Parasngsilibbo 2
(dua) RT dan RK 03 Paranglambere 1 (dua) RT.
3.2
Keadaan Sosial
Ekonomi Penduduk
Keadaan sosial ekonomi penduduk merupakan suatu keadaan yang
sangat berkaitan dengan kondisi finansial yang dimana taraf kemampuan penduduk
sangat di ukur dengan melihat dengan mata pencaharian penduduk tersebut.
Masyarakat Bulutana mempunyai mata pencaharian yang beragam, namun pada umumnya
sebagian besar bermata pencaharian petani dan buruh tani (Supartno, 2005).
3.2.1. Jumlah
Penduduk
Penduduk (population) adalah semua
orang yang menetap di suatu wilayah tertentu dalam jangka waktu tertentu.
Jumlah penduduk suatu negara dapat diketahui melalui beberapa cara yaitu sensus
penduduk, survey penduduk dan registrasi penduduk. Jumlah penduduk adalah jumlah manusia yang bertempat
tinggal/berdomisili pada suatu wilayah atau daerah dan memiliki mata
pencaharian tetap di daerah itu serta tercatat secara sah berdasarkan peraturan
yang berlaku di daerah tersebut(Anonim 6, 2011).
Penduduk
Kelurahan Bulutana terdiri atas 609 KK dengan total jumlah jiwa 2300 orang.
Berikut perbandingan jumlah penduduk perempuan dengan laki-laki.
Tabel
3. Data hasil sinkronisasi
pendataan Pemerintah Kelurahan Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong, kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi-Selatan, 2011
No
|
Jenis Kelamin
|
Jumlah
|
Presentase (%)
|
1
|
Laki-laki
|
1.141 Jiwa
|
49,6 %
|
2
|
Perempuan
|
1.159 Jiwa
|
50,3 %
|
Total
|
2.300 Jiwa
|
100%
|
Sumber: Data Sekunder, 2011
Berdasarkan tabel 3 diatas
menunjukkan bahwa dengan data penduduk pada saat ini terlihat dari laporan
hasil sensus Kader PPKBD dan Dasawisma dalam rangka penetapan Peringkat
Kesejahteraan Masyarakat (PKM) pada akhir Bulan oktober 2010. Menggunakan alat
kajian dengan system Penjajakan pendataan langsung di masyarakat dan di jadikan
sebagai Bank Data Kelurahan untuk kepentingan pembangunan masyarakat. Perkembangan
penduduk Kelurahan Bulutana yang setiap bulan disampaikan pada Pemerintah
Kabupaten melalui Kantor Camat Tinggi moncong, maka dapat diketahui jumlah
penduduk menurut kelompok Umur, jenjang pendidikan, masing-masing.
3.2.2 Jumlah penduduk menurut kelompok umur
Karakteristik penduduk
yang paling penting adalah umur atau yang sering juga disebut struktur umur.
Struktur umur penduduk dapat dilihat dalam umur satu tahunan atau yang disebut
juga umur tunggal (single age), dan yang dikelompokkan dalam lima tahunan
(Supradi, 2011). Berikut data jumlah
penduduk menurut kelompok umur :
Tabel
4. Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur
Kelurahan Bulutana, Kecamatan
Tinggimoncong, kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi-Selatan, 2011
No
|
Umur
|
L
|
P
|
Jumlah
|
Presentase %
|
1
|
0 - 5 Tahun
|
85
|
115
|
200
|
8,74 %
|
2
|
6 - 10 Tahun
|
122
|
160
|
282
|
12,32 %
|
3
|
11-15 Tahun
|
103
|
99
|
202
|
8,83 %
|
4
|
16 - 20 Tahun
|
96
|
84
|
180
|
7,87 %
|
5
|
21 - 25 Tahun
|
84
|
98
|
182
|
7,96 %
|
6
|
26 - 30 Tahun
|
98
|
96
|
194
|
8,48 %
|
7
|
31 - 35 Tahun
|
97
|
87
|
184
|
8,04 %
|
8
|
36 - 40 Tahun
|
65
|
74
|
139
|
6,08 %
|
9
|
41 - 45 Tahun
|
92
|
95
|
187
|
8,17 %
|
10
|
46 - 50 Tahun
|
109
|
80
|
189
|
8,26 %
|
11
|
51 - 55 Tahun
|
93
|
81
|
174
|
7,61 %
|
12
|
56 - 60 Tahun
|
97
|
90
|
187
|
7,68 %
|
Total
|
1.141
|
1.159
|
2.300
|
100%
|
Sumber : Data Sekunder, 2011
Tabel 4,menunjukkan bahwa jumlah
penduduk umur 0-5 tahun berjumlah 200, laki-laki 85, perempuan 115 dan
presentasenya 8,74%.Jumlah penduduk umur 6-10 tahun berjumlah 282, laki-laki
122, perempuan 160 dan presentasenya 12,32%. Jumlah penduduk umur 11-15 tahun berjumlah 202, laki-laki 103,
perempuan 99 dan presentasenya 8,83%.Jumlah penduduk umur 16-20 tahun berjumlah
180, laki-laki 96, perempuan 84 dan presentasenya 7,87%.Jumlah penduduk umur
21-25 tahun berjumlah 182, laki-laki 84, perempuan 98 dan presentasenya
7,96%.Jumlah penduduk umur 26-30 tahun berjumlah 194, laki-laki 98, perempuan
96 dan presentasenya 8,48%. Jumlah penduduk umur 31-35 tahun berjumlah 184,
laki-laki 97, perempuan 87 dan presentasenya 8,04%.Jumlah penduduk umur 36-40
tahun berjumlah 139, laki-laki 65, perempuan 74 dan presentasenya 6,08%. Jumlah
penduduk umur 41-45 tahun berjumlah 187, laki-laki 92, perempuan 95 dan
presentasenya 8,17%. Jumlah penduduk umur 46-50 tahun berjumlah 189, laki-laki
109, perempuan 80 dan presentasenya 8,26%. Jumlah penduduk umur 51-55 tahun
berjumlah 174, laki-laki 93, perempuan 81 dan presentasenya 7,61%. Jumlah
penduduk umur 55 tahun dan seterusnya berjumlah 187, laki-laki 97, perempuan 90
dan presentasenya 7,68%. Jadi total keseluruhan laki- laki berjumlah 1.141,
perempuan 1.159 dan total keseluruhan 2.300.
3.2.3
Jumlah Penduduk menurut Jenjang Pendidikan
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (suparyono,
2006).
Berikut data
jumlah penduduk tamat sekolah berdasarkan jenjang pendidikan :
Tabel.5 Jumlah Penduduk
Tamat Sekolah Berdasarkan Jenjang Pendidikan Kelurahan Bulutana,Kecamatan Tinggimoncong,
Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, 2011.
No
|
Jenjang Pendidikan
|
Jumlah
|
Presentase dari jumlah penduduk
|
|
|
1
|
Tamat sekolah SD
|
357
|
15,60 %
|
|
2
|
Tamat Sekolah SLTP
|
162
|
7,08 %
|
|
3
|
Tamat Sekolah SLTA
|
174
|
7,61 %
|
|
4
|
Tamat Ak./Perg Tinggi
|
57
|
2,50 %
|
|
5
|
Masih Sekolah
|
464
|
20,28 %
|
|
Total
|
1.214
|
53,04 %
|
|
Sumber : Data
Sekunder, 2011
Berdasarkan tabel
5 diatas menunjukkan bahwa data jumlah penduduk yang masih sekolah sangat
tinggi tetapi banyak juga penduduk yang
kebanyakan pendidikannya berhenti di sekolah dasar. Melihat dari itu pemerintah
seharusnya memberikan bantuan terhadap kelurahan ini dengan memberikan sarana
dan prasarana untuk memajukan kelurahan ini. Pada jenjang pendidikan SD jumlah
penduduk tamat sekolah 357 dengan presentase 15,60 %, dan pada jenjang
pendidikan tamat sekolah SLTA jumlahnya 174 dengan presentase 7,61 % dan total
keseluruhan berdasarkan tabel jumlah penduduk yang tamat sekolah 1.214.
3.2.4
Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencarian
Mata pencaharian merupakan suatu kegiatan
sehari-hari penduduk untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Dalam
rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, penduduk berusaha mencari lapangan kerja
yang sesuai dengan kemampuannya. Mata pencaharian dapat diklasifikasikan
menjadi dua golongan, berdasarkan tempat, desa dan kota dan berdasarkan jenis
pekerjaan,pertanian dan bukan pertanian (Suriati, 2007).
Mata Pencaharian
sebagian besar penduduk di kelurahan ini bekerja sebagai Petani dan peternak,
sehingga bidang pertanian dan peternakan menjadi tumpuan hidup sebgaian besar
penduduknya.Berikut perbandingan persentase jenis mata pencaharian penduduk.
Tabel
6. Jumlah
Penduduk menurut Mata Pencaharian
Kelurahan Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi
Sulawesi-Selatan, 2011.
No
|
Macam Pekerjaan
|
Jumlah
|
Presentase dari jumlah penduduk
|
|
|
1
|
Pegawai Pemerintah
|
61
|
2,67%
|
|
2
|
Pegawai Swasta
|
23
|
1,01 %
|
|
3
|
Wiraswasta (Usaha Sendiri)
|
265
|
11,58 %
|
|
4
|
Petani/Peternak
|
905
|
39,54 %
|
|
5
|
Pedagang
|
30
|
1,32 %
|
|
6
|
Pensiunan
|
36
|
1,58 %
|
|
Jumlah
|
1320
|
57,67 %
|
|
Sumber : Data
Sekunder,2011
Dari tabel 6, dijelaskan bahwa
pekerjaan petani/peternak memiliki presentase yang paling tinggi yaitu 39,54%
dan penduduk lebih banyak bekerja di bidang tersebut. Jumlah penduduk yang
bermatapencarian sebagai pegawai swasta lebih sedikit yaitu sebanyak 23 orang,
presentase 1,01%. Wiraswasta berjumlah 265 dan presentase 11,58%,
pedagang berjumlah 30 dan presentase 1,32%, pensiunan berjumlah 36 dan
presentase 1,58% dan pegawai pemerintah berjumlah 61 dan presentase 2,67%.
3.2.5
Tingkat Kesejahteraaan
Tingkat
Kesejahteraan adalah salah satu dari indikator lokal untuk memonitoring
kemajuan kabupaten dan kecamatan agar dapat mencapai target pertama
yaitu menurunkan proporsi penduduk yang tingkat
pendapatannya di bawah $1 (PPP) per hari menjadi
setengahnya antara 1990-2015, dari salah satu tujuan (Goals)
MDGs yaitu Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan (Rahim, 2010).
Untuk
mengetahui lebih jauh tentang tingkat kesejahteraan keluarga penduduk Kelurahan
Bulutana dapat dilihat melalui data kader PPKBD dan dasawisma yang ada pada
saat ini. Berikut
perbandingan jumlah rumah tangga/ keluarga Sejahtera dan Pra Sejahtera.
Tabel 7. Jumlah Keluarga menurut Kategori
Sejahtera dan Prasejahtera Kelurahan Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong,
Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi-Selatan, 2011.
Pra Sejahtera
|
Sejahtera
|
Sejahtera Plus
|
Total
|
I
|
II
|
III
|
150 KK
|
152 KK
|
127 KK
|
174 KK
|
6 KK
|
609 KK
|
Sumber : Data Sekunder
Berdasarkan data tabel
7, maka dilihat bahwa tingkat
kesejahteraan masyarakat Kelurahan Bulutana yang terdiri atas 609 KK,
dimana tingkat Pra Sejahtera sebesar 150 KK, tingkat Sejahtera I sebesar 152
KK, Sejahtera II 127 KK, Sejahtera III 174 KK serta tingkat Sejahtera Plus
sebesar 6 KK.
3.3
Keadaan Sarana dan Prasarana
Secara
umum sarana dan prasarana adalah alat penunjang keberhasilan suatu proses upaya
yang dilakukan di dalam pelayanan publik, karena apabila kedua hal ini tidak
tersedia maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat mencapai hasil
yang diharapkan sesuai dengan rencana (Moenir, 2009)
Berdasarkan data yang
diperoleh, kelurahan Bulutana, kecamatan Tinggimoncong, kabupaten Gowa memiliki
sarana dan prasarana yang tergolong kurang memadai. Letak sarana-sarana
tersebut di tempat yang berbeda namun dapat dijangkau oleh masyarakat.
1.
Sarana Umum
Sarana
umum adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas umum yang
berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan, dan juga dalam
rangka kepentingan yang sedang berhubungan dengan organisasi kerja (Wijaya, 2005).
Tabel 8. Sarana Umum Kelurahan Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi
Sulawesi Selatan, 2011
Jalan
|
Panjang
|
Provinsi
|
-km
|
Kabupaten
|
6 km
|
Kelurahan
|
18 km
|
Sumber :
Data Sekunder, 2011
Berdasarkan tabel 8
diatas menunjukkan sarana umum yang ada di kelurahan Bulutana dimana terdapat 3
jalan diantaranya jalan provinsi, jalan kabupaten dengan panjang 6 km dan jalan
kelurahan dengan panjang 18 km.
2.
Sarana Pendidikan
sarana pendidikan
sebagai segala macam alat yang digunakan secara langsung dalam proses
pendidikan. Sementara prasarana pendidikan adalah segala macam alat yang
tidak secara langsung digunakan dalam proses pendidikan. Tentu definisi tersebut tidak punya makna yang jelas dan tegas,
karena istilah secara langsung dan tidak langsung itu tak jelas maknanya, tak
jelas ujudnya seperti apa. Tegasnya: langsung terhadap apa, atau pada apa?
Untuk sementara, itu dapat dimaknai bahwa sarana pendidikan adalah segala macam
alat yang digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar, sementara prasarana
pendidikan tidak digunakan dalam proses atau kegiatan belajar-mengajar. Namun
demikian masih tetap belum jelas tegas benar.
Tabel
9. Sarana pendidikan di Kelurahan Bulutana, Kecamatan
Tinggimoncong, Kabupaten Gowa,
Provinsi Sulawesi
Selatan, 2011
Sarana
|
Jumlah
|
Tk
|
2 buah
|
Sd
|
4 buah
|
Smp/tsanawiyah
|
2 buah
|
Sma/aliyah
|
1 buah
|
Sumber : Data Sekunder,2011
Berdasarkan
tabel 9 diatas menunjukkan sarana pendidikan yang berada di Bulutana masih
sangat minim melihat jumlah sarana pendidikan yang masih sangat kurang dengan
TK bejumlah 2 buah, SD 4 buah, SMP/Tsanawiyah 2 buah dan hanya ada 1 buah
SMA/aliyah.
3.
Sarana Transportasi
Transportasi adalah pemindahan manusia, hewan atau barang
dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah wahana yang
digerakkan oleh manusia dan atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan
manusia dalam melakukan aktifitas sehari-hari (Arifin, 2006).
Tabel 10. Sarana transportasi di Kelurahan Bulutana, Kecamatan
Tinggimoncong, Kabupaten Gowa,
Provinsi Sulawesi
Selatan, 2011
Sarana
|
Jumlah
|
Pasar
|
-buah
|
Lapangan
|
3 buah
|
Rumah adat
|
2 buah
|
Balai pertemuan
|
1 buah
|
Sumber :
Data Sekunder, 2011
Berdasarkan
tabel 10 diatas menunjukkan jumlah sarana transportasi di kelurahan Bulutana,
dimana dari jumlah sarana tebanyak yakni lapangan dan sarana yang paling kurang yakni pasar dan balai pertemuan
4.
Kualitas Jalan
Kualitas jalan sangat menentukan keselamatan dalam perjalanan
seseorang dan mempermudah untuk cepat sampai pada tujuan, ternyata baiknya
infrastruktur jalan sangat berpengaruh terhadap laba atau keuntungan usaha,
namun sekarang banyak pelaksanaan proyek perbaikan jalan yang tak mengindahkan
kualitas dan asal-asalan, akibatnya jaln tidakdapat berthan lama apabila di
lalui oleh tranportsi yang memuat dengan kapasitas muatan tinggi. Berikut
kualitas jalan di Bulutana, Kec Tinggimoncong, Kabupaten Gowa :
Tabel
11. Kualitas jalan di Kelurahan
Bulutana, Kecamatan
Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi
Sulawesi
Selatan,
2011
Jalan
|
Panjang
|
Aspal
|
3,5 km
|
Batu
|
3,5 km
|
Tanah
|
4 km
|
Setapak/tani
|
2,5 km
|
Sumber :Data
Sekunder, 2011
Berdasarkan
tabel 11 menunjukkan bahwa kualitas jalan di Bulutana dengan panjang jalan
beraspal 3,5 km , dan jalan berbatu 3,5 km, jalan tanah sepanjang 4 km dan
jalan setapak yang panjangnya 2,5 km.
5.
Sarana Keagamaan
Sarana
keagamaan adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas agama
atau ibadah yang berfungsi sebagai alat
utama/pembantu dalam pelaksanaan keagamaan, dan juga dalam rangka kepentingan
yang sedang berhubungan dengan keagamaan
(Wijaya, 2005).
Tabel 12. Sarana keagamaan di Kelurahan Bulutana, Kecamatan
Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi
Sulawesi
Selatan, 2011
Sarana
|
Jumlah
|
Masjid
|
11 buah
|
Mushalla
|
1 buah
|
Pura
|
-buah
|
Gereja
|
-buah
|
Sumber : Data Sekunder, 2011
Sarana
keagamaan di Kelurahan Bulutana ini terdapat 11 buah Masjid, 1 buah Mushollah,
dan tidak tersedia Pura dan Gereja. Sarana keagamaan ini sangat dimanfaatkan
oleh masyarakat sekitar untuk beribadah.
3.4 Sejarah Kelurahan
Bulutana
Asal mula kata
“Bulutana” berasal dari bahasa Makassar asli yaitu “bulu” yang berarti bukit dan “tana” berarti tanah. Menurut pesan
leluhur atau “pasang turiolo”
bahwa dulu di kerajaan Gowa terdapat raja yang berposisi yang dikenal dengan
nama “Karaengta Data”
dimana dalam perjalanannya menemukan suatu kampung yang terletak diatas bukit
yang sangat strategis dan dapat dijadikan benteng pertahanan dimana kampung ini
bernama Bulutana yang artinya pertahanan diatas bukit. Kampung ini memang bila
dilihat letak geografisnya tepat sekali dijadikan pertahanan dimana hanya ada
satu jalur jalan saja untuk keluar dan masuk.
3.5 Komoditi Kelurahan Bulutana
Komoditi di Kelurahan Bulutana,
Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa yang
tertinggi dikelola oleh penduduk sekitar adalah padi. Dimana didaerah
ini memiliki lahan sawah 389 ha. Padi (bahasa
latin: Oryza sativa L.) adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga
digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang
biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari
daratan Asia sekitar 1500 SM.
Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun
demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk
dunia. Setelah padi didaerah ini juga
terdapat komoditi cengkeh, kopi, coklat dan horti ( kentang, ubi kayu, ubi
jalar, wortel, lobak dan lain-lain).
IV. METODE PELAKSANAAN
4.1 Waktu dan Tempat
Penyelenggaraan Field Trip Pengantar Ilmu Pertanian ini
dilaksanakan selama dua hari, yaitu sabtu dan minggu tanggal 26-27 November
2011, pemberangkatan dimulai pukul 07.20 WITA yang berpusat di Fakultas
Pertanian Universitas Hasanuddin menuju lokasi yang ditinjau yakni Kelurahan
Bulutana, Kabupaten Gowa.
4.2 Teknik Pengambilan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam pelaksanaan Field
Trip ini, yaitu metode obsevasi dan wawancara langsung dengan petani
(responden) dengan mengamati secara cermat dan teliti tentang karakteristik
fisik, sosial, ekonomi, sosial budaya serta pola pengolahan sumber daya alam
dan lingkungan di lokasi Field Trip. Adapun 2 macam teknik pengambilan data
diantaranya sebagai berikut :
1.
Observasi yaitu
metode yang dilakukan dengan melihat dan mengamati secara langsung kehidupan
petani dan berinteraksi dengan mereka. Hal ini di maksudkan, agar data atau
informasi yang diperoleh lebih rinci atau lebih jelas.
2.
Wawancara adalah
metode yang dilakukan dengan cara bertemu langsung dengan responden dan
hasilnya ditulis dalam bentuk laporan, kemudian dilaporkan secara berkala
kepada asisten.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Field Trip
Dalam field trip
ini kami mengamati daerah hilir, tengah dan hulu dengan tujuan menemu-kenali
dan menelusuri DAS Je’neberang serta dampaknya terhadap masyarakat dari hilir
hingga ke daerah hulu.
5.1.1 Ekosistem Pesisir
Ekosistem pesisir merupakan
daerah peralihan antara ekosistem darat dengan ekosistem laut, dimana organisme
penghuninya berbaur antara organisme dari darat dan dari laut. Organisme
tersebut berkumpul dalam suatu tempat untuk saling berinteraksi, seperti pada
daerah estuari, pantai berbatu, pantai berpasir, hutan mangrove, padang lamun
dan terumbu karang. Ekosistem laut meliputi beberapa ekosistem khas seperti
padang lamun, terumbu karang, laut dalam dan samudera, dimana seluruh jenis
organisme penghuninya saling berinteraksi dalam media air. Namun demikian,
antara ekosistem pesisir dan ekosistem laut seringkali saling berhubungan
karena keterkaitan ekosistemnya
Di tempat
ini kami mengamati sedimentasi yang merupakan
pengendapan pasir dan lumpur yang berasal dari daerah hulu. Yang berdampak
negatif yaitu terjadinya pendangkalan pada daerah laut dan membuat biota–biota
bertransmigrasi ke tempat lain selain itu juga dapat merusak dari ekosistem
laut yang ada. Hutan bakau, padang lamun dan terumbu karang merupakan tiga
ekosistem penting di daerah pesisir perairan tropika. Hutan bakau dan padang
lamun berperan penting dalam melindungi pantai dari arus dan hempasan ombak,
selain itu juga berperan penting sebagai tempat memijah, membesar dan mencari
makan dari berbagai biota, termasuk yang menghuni ekosistem terumbu karang.
Diketahui bahwa ekosistem terumbu karang dihuni oleh lebih dari 93.000 spesies,
bahkan diperkirakan lebih dari satu juta spesies mendiami ekosistem ini.
Ekosistem terumbu karang yang sangat kaya akan plasma nutfah ini, kendati
tampak sangat kokoh dan kuat, namun ternyata sangat rentan terhadap perubahan
lingkungan (Arief, 2007).
Hutan mangrove merupakan ekosistem yang sangat unik dan merupakan
salah satu sumber daya alam yang sangat potensial karena di kawasan hutan
mangrove terpadu unsur fisik, biologis daratan dan lautan, sehingga menciptakan
keterlibatan suatu ekosistem yang kompleks antara ekosistem laut dan ekosistem
darat (Purnobasuki, 2005).
5.1.2 Ekosistem Persawahan
Setelah
mengunjungi ekosistem pesisir, kami kemudian menuju ke daerah persawahan di
Kabupaten Gowa. Daerah persawahan yang kami kunjungi merupakan sawah kelas 1
(satu) karena sawah ini terletak di pinggir jalan raya dekat dengan pemukiman
penduduk dan pengairannya telah menggunakan irigasi.
Persawahan merupakan tulang punggung dari
usaha tani Indonesia dan perekonomian Indonesia. Sebagian besar dari
bahan-bahan makanan, khususnya beras berasal dari sawah. Sawah lazim dibedakan
menjadi 5 macam tetapi yang paling sering kita dengar ialah sawah irigasi dan
sawah tadah hujan. Sawah irigasi, keberhasilan sawah ini tergantung dari
pengaturan pengairan sehingga sawah ini bisa panen dua kali dalam
setahun. Sedangkan Sawah tadah hujan, sawah
yang mengharapkan air hujan sebagai pengairannya. Sawah ini hanya panen sekali
dalam setahun (Suriana, 2009)
Areal persawahan merupakan salah satu
ekosistem daratan yang sangat bergantung pada kondisi fisik tanah. Sawah
merupakan salah satu dari sekian banyak aspek dalam bidang pertanian, dimana
dalam pengelolahannya membutuhkan urutan- urutan kerja tertentu (Muhajir,
2007).
5.1.3 DAS Jeneberang dan
DAM Bili-Bili
Bagian tengah daerah aliran Sungai Jeneberang, selain batuan
gunung api, dijumpai juga batuan sedimen laut dari formasi Camba yang terdiri
dari batu pasir, batul empung, napal, batu gamping, konglomerat dan
breksigunung api. DAM Bili-Bili merupakan bendungan yang sangat luas yang
pembangunannya membutuhkan jumlah dana yang sangat besar. Bendungan ini dapat
menampung air yang sangat banyak. Bahkan dapat menahan semua air dari hulu agar
tidak sampai ke daerah hilir. Bendungan ini memiliki banyak fungsi diantaranya
sebagai penahan air, penyedia air irigasi bagi daerah setempat, sebagai
pembangkit tenaga listrik, untuk daerah pariwisata, dan tempat budidaya
perikanan darat.Keutuhan DAM Bili-Bili harus dijaga karena apabila DAM tersebut
rusak dapat menyebabkan Daerah hilir tergenang air dan banjir akan terjadi di
Kota Makassar. Maka dari itu daerah tersebut sangat di jaga dan diadakan
pengerutan sedimentasi hampir di setiap minggu. SABO DAM merupakan
bagian-bagian dari sebuah DAM yang di bangun diantara aliran sungai. Kegunaan
dari SABO DAM yaitu untuk menahan batu-batu yang berasal dari hulu agar tidak
sampai ke DAM Bili-Bili dan ke daerah
hilir. SABO DAM yang terdapat di derah ini sebanyak 10 SABO DAM yang
menahan dan mengatur aliran air dari hulu sampai ke hilir. SABO DAM yang
menahan pasir dan batu sehingga batu besar maupun kecil berkumpul dari SABO DAM
pertama sampai terakhir. Batu dan pasir tersebut dapat digunakan sebagai mata pencarian
daerah setempat sebagai tambak. Namum pengambilan tersebut memiliki
aturan-aturan dan batasan-batasan tertentu. DAS Je’neberang mempunyai panjang ±
97 km, dengan luas aliran ±727 km2 yang memanjang dari Timur ke
Barat. Pada daerah DAS terdapat Pasir dan batu hasil dari penyaringan Sabo DAM.
Seperti yang telah di jelaskan tadi yaitu sebagai tempat mata pencarian
masyarakat setempat.
5.1.4 Ekosistem Hutan dan Kebun Campuran
Kebun
campuran merupakan gabungan dari beberapa pohon buah-buahan diantaranya
terdapat buah mangga, pisang, nangka, pohon coklat, pohon rambutan, pohon
durian, kopi, dan lain sebagainya. Kebun campuran ini bemanfaat sebagai
komoditi daerah dan juga sebagai pencegah erosi. Selain itu dengan beraneka
ragamnya pohon tersebut dapat menstabilkan lingkungan. Daerah yang terakhir
adalah daerah hulu. Di daerah tesebut terdapat pohon pinus. Pohon pinus hanya
dapat tumbuh pada daerah curah hujan > 2000 mm/tahun. Yang bermanfaat
sebagai penahan erosi juga sebagai regulator air yang menampung air pada musim
hujan dan mengeluarkannya pada musim kemarau. Apabila terjadi penebangan pinus
maka akan berdampak erosi pada 3 tahun setelah penebangan. Maka pohon pinus
harus di jaga kelestariannya. Selain itu batang dari pohon pinus dapat di
gunakan untuk berbagai macam meubel, meja korek api, sumpit dan lain
sebagainya.
Daerah
hulu sampai ke hilir mempunyai hubungan yang saling berkesinambungan. Apabila
pada daerah hulu rusak maka daerah tengah akan rusak, dan apabila daerah tengah
rusak maka daerah hilirpun akan ikut rusak. Sebagai contohnya apabila
penebangan hutan pada daerah hulu rusak, maka akan mengakibatkan erosi yang
berdampak pada daerah tengah yang tanah erosi tersebut akan terbawa bersama
dengan air dan terjadi pengendapan yang sangat besar. Apabila daerah tengah
rusak. Akan menyebabkan daerah hilir pun akan rusak karena air dari hilir
tersebut berasal dari daerah tengah. Maka dari itu perlu adanya penjagaan dan
pelestarian lingkungan sehingga tidak terjadinya masalah besar yang mungkin
saja akan terjadi.
5.2 Profil Petani
Profil petani di
kelurahan Bulutana, kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa dapat dilihat pada
tabel berikut :
1.
Nama :
Muh. Hasan
2.
Umur : 56 tahun
3.
Pendidikan : SMP
4.
Agama :
Islam
5.
Pekerjaan pokok :
Petani
6.
Pekerjaan sampingan : pengembala sapi
7.
Jumlah tanggungan keluarga : 4
orang
Tabel
13. Hubungan dengan kepala rumah tangga responden di Kelurahan Bulutana,
Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa,
Provinsi Sulawesi-Selatan, 2011.
No
|
Nama
|
L/p
|
Umur
|
Pendidikan
|
Hub.kk
|
Ket.
|
1
|
Norma
|
P
|
50 thn
|
SD
|
Istri
|
|
2
|
Amri
|
L
|
28 thn
|
SMA
|
Anak
|
|
3
|
Surianti
|
P
|
21 thn
|
SMA
|
Menantu
|
|
4
|
Suhairah
|
P
|
1 thn
|
-
|
Cucu
|
|
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2011
Tabel di atas menunjukkan bahwa petani responden bernama
Muh. Hasan, beliau berusia 56 tahun, pendidikan yang minim yaitu SMP dengan
jumlah tanggungan keluarga 4 orang diantaranya istri, anak, menantu dan seorang
cucu bekerja sampingan sebagai
pengembala sapi untuk menafkahi keluarganya. Pengalaman berusaha taninya
sekitar 41 tahun. Keterampilan bertani diperolehnya dari orang tuanya. Awalnya
hanya ikut-ikut membantu orang tuanya, hingga akhirnya beliau mampu
berusahatani sendiri. Beliau memiliki lahan yang luasnya sekitar 0,5 hektar dan
jarak dari tempat usaha tani ke rumahnya sekitar 1 km . Status kepemilikan
lahan beliau adalah petani pemilik. Lahan tersebut adalah warisan dari orang
tuanya yang dimanfaatkan untuk menanam padi.
Dalam pengolahan lahannya beliau
masih memakai cara tradisional menggunakan tangan dan menanam 2-3 anakan padi
dengan jarak antar tanaman padi sekitaran 1 jengkal, benih dan bibit yang
digunakan adalah benih dan bibit unggul, beliau menggunakan alat yang masih
sederhana, seperti cangkul, sabit dan peralatan seadanya. Untuk meningkatkan
hasil produksi usaha taninya, beliau menggunakan pupuk. Jenis pupuk yang ia
gunakan yaitu pupuk urea dan TSP dan dibeli dipasar setempat dan terkadang juga
pupuk diperoleh gratis dari bantuan pemerintah. Ketika tanamannya diserang
hama, beliau menggunakan alat penyemprot. Hama yang sering menyerang tanaman
responden adalah serangga, tikus dan burung untuk membasminya beliau
menggunakan peptisida jenis Arifo, dan juga sistem pengairan yang digunakan
adalah irigasi.
Beliau mendistribusikan padi ke pasar setempat dan
penduduk yang berada disekitar lingkup rumahnya namun disamping itu ia
mengkonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari dan terkadang beliau menjual hasil
panennya ke pedagang pengumpul, tetapi harganya lebih murah dibanding harga di
pasar.
5.2.1 Hasil
Wawancara
Petani responden
bernama Muh. Hasan berusia 56 tahun., berpendidikan terakhir SMP, jumlah
tanggungan keluarga 4 orang dan bekerja sampingan sebagai pengembala sapi,
dalam berusaha tani tanaman yang diusahakan oleh pak Hasan adalah komoditi Padi
dan cengkeh. Lahan yang dimiliki oleh pak
Hasan luasnya 0,5 hektar yang berjarak sekitar 1 km dari rumahnya dan
cara menanam tanaman masih dengan cara tradisional dengan menggunakan tangan
dan menanam 2-3 anakan padi dengan jarak antar tanaman padi sekitar 1 jengkal. Pada lahan yang ditanami padi dapat
dipanen 2-3 kali dalam 1 tahun. Bibit
dan benih padi yang digunakan oleh pak Hasan yaitu bibit dan benih unggul dari
pemerintah tapi terkadang benih dan bibit sendiri yang dibeli di pasaran.
Dalam pengolahan lahan, pertama pak Hasan membersihkan lahan dan
menyemprotkan racun guna memberantas rumput. Racun yang digunakan adalah racun Endomic. Pada
pengolahan lahannya yaitu pada saat dibajak pak Hasan sering menggunakan sapi dan terkadang memakai
traktor sewaan dan alat seadanya seperti cangkul, sabit dll. Dimana alat-alat
diperolehnya dari pasar yang khusus menjual peralatan tani dan biaya yang
dikeluarkan sekitaran Rp.300.000 dengan periode penggunaan selama 2 tahun yang
dimana modal yang digunakan untuk pembeliaan alat-alat dari hasil panen.
Berkaitan dengan alat-alat yang digunakan ini pak Hasan berharap adanya bantuan
dari pemerintah agar dapat membantuh masyrakat tani agar dipermudah untuk
memperoleh alat-alat tani yang lebih canggih guna menambah jumlah produksi
panen. Kemudian dalam hal pemupukan, pupuk yang sering digunakan adalah jenis
pupuk Urea dan TSP dan dilakukan setiap
1 bulan yang di peroleh terkadang dari bantuan pemerintah dan juga diperoleh
dari pembelian dipasaran setempat.
Adapun hama yang sering menjadi penghambat dalam usahatani pak
Hasan yakni serangga, burung, dan tikus, dalam memberantas hama ini pak hasan
menggunakan peptisida jenis Arifo. Kemudian dalam hal pengairan yang digunakan
pak Hasan adalah sistem irigasi yang dibuatnya untuk mengaliri area lahan
persawahannya. Setelah 3 bulan masa panen datang, dalam memanen ada juga proses
pengolahan hasil panen yaitu gabah basah terlebih dahulu dikeringkan atau dijemur setelah kering
dimasukkan dalam mesin penggiling. Setiap ,1 karung gabah dihasilkan 35 Kg beras
dan setiap 1/2 hektar dihasilkan 40 Kg beras.
Dalam
pemasarannya terkadang pak Hasan menjual sendiri, ke penduduk sekitar namun
disamping itu ia mengkonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari dan terkadang pula
pak Hasan menjual hasil panennya ke pedagang pengumpul, tetapi harganya lebih
murah dibanding h tersebut arga di pasar. Pak Hasan merasa tidak puas dengan
harga penjualan karena ia merasa tidak sebanding dengan harga pembelian pupuk
dan benih dengan pendapatan yang beliau peroleh, maka dari itu beliau berharap
subsidi pupuk dan bibit unggul gratis oleh pemerintah agar sering diberikan
kepada petani–petani agar dapat membantuh masyarakat tani untuk dapat
meningkatkan produksi hasil taninya dan meningkat perekonomian dari kalangan
masyrakat tani itu sendiri.
Pada daerah pak Hasan yaitu
kelurahan Bulutana ini terkadang pihak dari Dinas Pertaniaan dan PPL juga
datang ke daerah ini untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat tani, dari
penyuluhan ini pak Hasan memperoleh pengetahuan baik dalam hal cara menanam,
memupuk dan lebih mengetahui dampak penggunaan peptisida secara berlebihan,
namun disamping itu pula banyak masyarakat di sekitaran kelurahan Bulutana
kurang tertarik pada kegiatan PPL ini terbukti dengan sedikitnya masyarakat
tani yang ingin berpartisipasi karena menurutnya kegiatan PPL ini dapat menyita
waktunya untuk aktivitas bertani dan pekerjaan lainnya, hal ini jugalah yang
menjadi alasan pak Hasan sehinggah ia tidak rutin mengikuti kegiatan – kegiatan
yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan kegiatan Penyuluhan Pertanian
Lapangan
Pada daerah ini sosial budaya yang dianut
masih cenderung terikat oleh adat-adat nenek moyang yang kebanyakan percaya
akan mitos-mitos. Jika masa panen tiba maupun masa penanaman maka masyarakat di
kelurahan Bulutana ini mengadakan syukuran dan biasanya dalam menentukan waktu
sebelum proses penanaman dihitung dengan melihat bulan dengan tujuan memperoleh
hasil yang memuaskan.
Para petani di
sana juga mempunyai adat yang bernama “Appalili” yaitu seperti rapat musyawarah
masyarakat setempat untuk membicarakan kedepannya pertanian ini agar lebih
baik, kadang juga dalam musyawarah tersebut mereka membahas atau menyepakati
pupuk yang akan dipakai bersama. Fungsinya adat ini juga sebagai tempat
bersilaturahmi.
Situasi rumah
Pak Hasan tidak terlalu memprihatinkan.
Dia mempunyai kamar, dapur, dan ruang tamu yang layak dipakai. Atapnya terbuat
dari seng, dindingnya dari batu bata, sedangkan lantainya ada sebagian dari
semen ada juga yang memakai tegel. Pekarangannya juga tidak terlalu sempit dan
di tumbuhi berbagai macam tumbuhan favorit istrinya. Keseharian Pak Hasan
adalah bertani dan mengembala sapi.
Pak Hasan
bertani dari pagi hingga petang. Jika waktu sholat tiba, Pak Hasan ke rumah
untuk sholat, istirahat dan makan setelah itu dia kembali lagi bekerja di
sawahnya.
Daerah ini
tentunya sering terjadi yang namanya longsor maupun banjir. Cara
menanggulanginya itu dengan cara menanam pohon dan mengawasi adanya penebangan
hutan yang tanpa izin polisi setempat. Para petani juga biasanya melakukan
penebangan pohon untuk membuka lahannya tetapi mereka diberi peraturan apabila
menebang satu pohon, mereka harus juga menanam 10 pohon. Penyuluhan tentang
hutan juga sering didapatkan para petani di sana apabila ada yang menanyakan,
jadi mereka mengetahui beberapa tentang pohon maupun hutan. Penebangan
pohon juga dapat dilakukan kapanpun apabila sudah mendapat izin dari polisi
hutan. Karena polisi hutanlah yang bertanggung jawab atas hutan tersebut.
Apabila ada yang menebang pohon tanpa izin, maka orang tersebut akan dilaporkan
kepada pak RT setempat dan diproses di sana.
5.2.2
Analisis Data
Berdasarkan
hasil wawancara dengan responden, maka kami dapat menemukan fakta, masalah,
sasaran dan tindakan dari berbagai aspek seperti berikut:
Tabel 14.
Analisis data di Kelurahan Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa,
Provinsi Sulawesi-Selatan, 2011.
ASPEK
|
FAKTA
|
MASALAH
|
SASARAN
|
TINDAKAN
|
Ekologi
|
Penggunaan pestisida
|
Rusaknya Unsur hara dalam tanah
|
Meningkatkan hasil produksi tani
|
Menggunakan
alternative lain dalam membasmi hama dan penyakit tanaman
|
Sosial Ekonomi
|
Kurang terpenuhinya kebutuhan untuk pembibitan
|
Bibit-bibit yang
bervarietas unggul sangat sulit
|
Mendapatkan modal bibit
|
Pematokan harga produksi sesuai dengan
usaha tani
|
Sosial Budaya
|
Gotong royong
|
Kurangnya perhatian dari pemerintah
|
Mempererat tali persaudaran satu sama
lain
|
Adanya perhatian pemerintah untuk membuat berbagai
kegiatan agar gotong royong semakin baik
|
Sumber Daya Manusia
|
Pendidikan masih kurang
|
Pendidikan masyarakat tani masih rendah
|
Meningkatkan mutu pendidikan di kalangan
petani
|
Memberikan penyuluhan tentang pendidikan
masa kini
|
Teknologi
|
Masih menggunakan alat yang minim
|
Proses pengolahan yang lama
|
Penghasilan produksi di dapatkan dalam
waktu yang singkat
|
Pemerintah sebaiknya memberikan
penyuluhan dan memberikan alat yang canggih
|
Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2011
VI. KESIMPULAN
DAN SARAN
6.1
Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari pembahasan laporan ini adalah :
v Ekosistem pesisir (hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang)
telah rusak akibat dari ulah manusia itu sendiri seperti pembuangan sampah dan
penebangan pohon yang mengakibatkan pencemaran baik udara maupun laut.
v Perlunya dirawat dan dijaga kelestarian lingkungan yang berada
pada DAM Bili–Bili dan SABO DAM karena sangat berbahaya apabila terjadi
kerusakan pada daerah ini yang akan membawa mala petaka dan dengan melestarikan lingkungan pada
daerah DAM Bili–Bili dan SABO DAM maka
dapat sangat bermanfaat sangat besar dalam kehidupan.
v Pengelolaan pertanian secara umum di Kelurahan Bulutana sudah
modern. Hal ini terlihat dengan penggunaan traktor dalam penggarapan sawah.
Namun tak jarang cara tradisional pun masih dilakukan seperti penggarapan lahan
dengan menggunakan sapi.
v Masih terjaganya budaya gotong royong dan tradisi-tradisi nenek
moyang setempat seperti upacara pasca panen.
v Segala aktivitas yang dilakukan di daerah hulu akan berakibat pada
daerah tengah sampai hilir
6.2
Saran
6.2.1 Saran Teknis
Adapun saran kami secara teknis untuk field trip ke depannya
adalah perlunya penambahan waktu dalam pelaksanaan field trip sebab waktu yang
di berikan sangat singkat sehingga pengetahuan yang dihasilkan pun minim.
6.2.2 Saran Lingkungan
Peningkatan mutu lingkungan masih perlu ditindak lanjuti karena
kerusakan lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup. Hal yang
perlu kita lakukan dengan menjaga kelestarian lingkungan agar tetap stabil.
DAFTAR PUSTAKA
Diakses pada tanggal 3 Desember
2011. Makassar.
Diakses pada tanggal 3 desember 2011. Makassar.
Diakses padsa tanggal 4 desember 2011. Makassar.
Diakses pada tanggal 4 desember 2011. Makassar.
Diakses pada tanggal 4 desember
2011. Makassar.
Diakses pada tanggal 4 desember 2011. Makassar.
Arifin,A. 2005. Hutan Mangrove Fungsi dan Manfaatnya. Kanisius, Yogyakarta.
Kasla, A.Tohir. 2006. Seuntai Pengetahuan tentang Usahatani di Indonesia.
Bina Karsas. Jakarta.
Rahim. 2010. Pengaruh Sarana Terhadap Kesejahteraan. Erlangga. Jakarta.
Suparyono. 2006. Kependudukan dan Kewilayahan. Yudistira.
Yogyakarta.
Suriati. 2007. Penduduk Menurut
Mata Pencaharian. Kanisius. Yogyakarta.
Tim Pengajar WSBM. 2011. Wawasan Sosial Budaya Maritim. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Tim Penyusun Penuntun Field Trip .2011. Menemu-Kenali dan Menelusuri DAS Je’neberang (Gowa) serta Dampaknya
terhadap Masyarakat dari Hilir Hingga Ke Daerah Hulu. Universitas
Hasanuddin. Makassar.